Senin, Juli 29, 2013

Wahana Antropologi - Animisme

>
E.B. Tylor dalam bukunya “The Primitive Culture”, kata Animisme berasal dari kata anima yang artinya jiwa atau nyawa. Masyarakat penganut kepercayaan animisme percaya segala sesuatu memiliki jiwa atau “soul”, termasuk binatang, tumbuhan, karang, gunung, sungai, bintang dan lain sebagainya. Setiap segala sesuatu yang dianggap mempunyai jiwa ini dipercayai memiliki kekuatan, spiritual yang dapat melindungi atau bahkan mencelakakan mereka termasuk juga roh-roh nenek moyang.

Pada kepercayaan atau agama primitif ini cenderung memuja atau takut dan percaya kepada sesuatu yang menguasai wilayah yang ditempati. Pandangan suku-suku primitif tentang jiwa muncul dari anggapannya tentang mimpi. Di dalam mimpi orang-orang primitif melihat dirinya sendiri berjalan keluar dari dirinya. Seperti itulah orang mati, jiwanya pada hakekatnya tidak hancur bersama jasadnya namun berpindah atau menempati tempat tertentu yang dianggap angker atau mengerikan. Dapat juga berada pada seseorang (reinkarnasi), pohon besar, batu, dan gunung tergantung apa yang dimaui. Roh orang yang meninggal tidaklah begitu saja putus hubungannya dengan sanak keluarganya, melainkan secara terus-menerus menginginkan berdampingan dengan manusia. Bahkan manusia dihinggapi sehingga orang tersebut mengikuti kehendak roh tersebut, contoh: kesurupan (Ghazali,2000).

Di dalam melakukan hubungan spiritual masyarakat melakukan upacara sakral dalam bentuk selamatan dengan mengadakan sesaji yang semata-mata ditujukan kepada roh-roh halus yang mendiami tempat tertentu. Adanya sesaji berarti roh haluspun dipengaruhi oleh manusia yang pada akhirnya dapat berpihak kepada kepentingan manusia dalam bekerja; bertani, bercocok tanam, beternak, nelayan. Misalnya, di masyarakat pesisir pantai dilakukan upacara ngeruat yang tujuannya supaya tidak terjadi bahaya air laut naik sehingga menyebabkan banjir. Di pantai selatan atau gunung merapi diadakan upacara labuhan untuk keselamatan masyarakat dan terutama menjaga kemurkaan Nyi Roro Kidul dan penunggu gunung merapi.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Sihir

>
Kalau penyakit menimpa tanaman kacang, hal itu adalah sihir. Kalau orang sia-sia mencari binatang buruan di semak-semak, itu adalah sihir. Memang, kalau suatu kejadian malapetaka menimpa seseorang pada suatu waktu dan dalam hubungan dengan salah satu kegiatannya yang bermacam-macam dalam hidupnya, maka sebabnya mungkin karena sihir.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Agama Wahyu

>
Agama wahyu atau meminjam istilah Max Weber 'agama yang dirasionalisasikan' adalah yang disebut agama-agama besar dunia, seperti Yudaisme, Konfusianisme, Hinduisme, dan sebagainya. Bukannya memiliki banyak roh, agama-agama ini cenderung melihat Tuhan dalam bentuk satu atau sekedar prinsip spiritual yang besar. Agama-agama ini umumnya bersifat abstrak dan logis. Tidak seperti penganut agama alam, para pengikut agama wahyu sangat sadar dengan apa yang mereka lakukan dan mereka telah memilih suatu sistem kepercayaan yang sangat teratur. Menurut Weber, sebagian besar agama-agama dunia yang dirasionalisasikan muncul pada saat pergolakan sosial yang besar. Misalnya, Agama Kristen, muncul di tengah-tengah kekacauan sosial yang besar di alam Mediterania Kuno yang disebabkan oleh kemunculan dan menyebarnya peradaban Yunani Romawi.

Di Indonesia sendiri, agama wahyu adalah sebutan untuk agama yang ada setelah terbentuknya negara. Artinya agama tersebut diakui keberadaannya oleh negara, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Tetapi baru-baru ini telah diterimanya agama Kong Hu Cu sebagai salah satu agama yang diakui oleh negara. Konsep Tuhan tidaklah termanifestasi dalam benda-benda material atau kekuatan yang memiliki daya gaib dan supranatural seperti dalam agama bumi. Proses penciptaan bumi diyakini karena campur tangan kekuatan yang berada di luar akal manusia dan disanalah adanya keberadaan Tuhan. Munculnnya konsep manusia pertama (Adam dan Hawa) dalam berbagai versi agama menguatkan manusia untuk menyembah sesuatu yang menciptakannya. Konsep agama tidak lagi muncul karena kepercayaan terhadap benda namun lebih mengacu pada proses pewahyuan agama dari Tuhan kepada seseorang yang dianggap suci.

Manusia sudah mulai menyadari adanya proses pewahyuan dan keyakinan akan adanya Sang Pencipta yang tidak bisa dipersonifikasi dengan alam atau benda material. Hal ini membuat manusia yakin bahwa agama sesuatu hal gaib yang menguasai manusia. Pada saat itu manusia mulai mencari suatu pemikiran yang lebih rasional untuk mencari hakikat tentang Ketuhanan.
Baca Selengkapnya...

Referensi :

Sebagian artikel yang tidak tertulis referensi nya adalah bersumber dari buku catatan sekolah.. Jika anda ingin memposting artikel bersumber dari blog ini, Mohon sertakan Referensinya agar anda tidak melanggar Aturan Penulisan, Terima Kasih :))