Tampilkan postingan dengan label Antropologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antropologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 30, 2013

Wahana Antropologi - Seni Pertunjukan Tradisional

>
Di dalam setiap pementasannya, beberapa bentuk kesenian tradisional selalu membawa misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Misi atau pesan itu dapat bersifat sosial, politik, moral dan sebagainya. Sebenarnya dalam setiap pertunjukan seni tradisional ada beberapa nilai tertentu yang dikandungnya. Seni pertunjukan tradisional secara umum mempunyai empat fungsi, yaitu fungsi ritual, fungsi pendidikan sebagai media tuntunan, fungsi atau media penerangan atau kritik sosial dan fungsi hiburan atau tontonan.

Untuk memenuhi fungsi ritual, seni pertunjukan yang ditampilkan biasanya masih berpijak pada aturan-aturan tradisi. Misalnya sesaji sebelum pementasan wayang, ritual-ritual bersih desa dengan seni pertunjukan dan sesaji tertentu, pantanganpantangan yang tidak boleh dilanggar selama pertunjukan dan lainlain. Sebagai media pendidikan, pertunjukan tradisional mentransformasikan nilai-nilai budaya yang ada dalam seni pertunjukan tradisional tersebut. Oleh karena itu, seorang seniman betul-betul dituntut untuk dapat berperan semaksimal mungkin atas peran yang dibawakannya. Seni pertunjukan tradisional (wayang kulit, wayang orang, ketoprak) sebenarnya sudah mengandung media pendidikan pada hakikat seni pertunjukan itu sendiri, dalam perwatakan tokoh-tokohnya dan juga dalam ceritanya. Misalnya pertentangan yang baik dan yang buruk akan dimenangkan yang baik, kerukunan Pandawa, nilai-nilai kesetiaan dan lain-lain.

Pada masa sekarang ini seni pertunjukan tradisional cukup efektif pula sebagai media penerangan ataupun kritik sosial, baik dari pemerintah atau dari rakyat. Misalnya pesan-pesan pembangunan, penyampaian informasi dan lain-lain. Sebaliknya rakyat dapat mengkritik pimpinan atau pemerintah secara tidak langsung misalnya lewat adegan goro-goro pada wayang atau dagelan pada ketoprak. Hal ini disebabkan adanya anggapan mengkritik (lebih-lebih) pimpinan atau atasan adalah “tabu”. Melalui sindiran atau guyonan dapat diungkap tentang berbagai ketidakberesan yang ada, tanpa menyakiti orang lain.

Sebagai media tontonan seni pertunjukan tradisional harus dapat menghibur penonton, menghilangkan stres dan menyenangkan hati. Sebagai tontonan atau hiburan seni pertunjukan tradisional ini biasanya tidak ada kaitannya dengan upacara ritual. Pertunjukan ini diselenggarakan benar-benar hanya untuk hiburan misalnya tampil pada peringatan kelahiran, resepsi pernikahan dan lain-lain.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Golongan Elite

>
Menurut Weber golongan elit dan hartawan sejajar dengan golongan pegawai negeri (birokrat) tidak menaruh gagasan tentang keselamatan, dosa dan kerendahan hati namun mereka haus akan kehormatan. Pada mereka tidak ada keinginan untuk mengembangkan gagasan keselamatan, dan agama dianggap sebagai suatu fungsi pembenaran bagi pola kehidupan dan situasi mereka di dunia. Secara ekonomi jelas mereka tidak merasa kekurangan sehingga apa yang menjadi kelangkaan dan ketidakpastian secara logika dapat terpenuhi. Kedudukan dan kekayaan yang mereka miliki cukup memberikan jaminan aman.

Dari beberapa golongan yang ada dalam masyarakat, dampak terbesar sebuah perilaku agama adalah mengarahkan perhatian umat manusia kepada masalah maha penting yang selalu menggoda yaitu masalah "arti" dan "makna". Manusia membutuhkan bukan saja pengaturan emosi tetapi juga kepastian kongnitif tentang perkara-perkara yang tidak dielakkan dari pikirannya kesusilaan, disiplin, penderitaan, kematian dan nasib terakhir. Terhadap persoalan tersebut agama menunjukkan jalan dan arah kemana manusia mendapatkan jawaban. Jawaban itu ada dalam kekuatan supraempiris yang tidak dapat dijangkau tenaga inderawi maupun otak duniawi sehingga tidak dapat dibuktikan secara rasional melainkan harus diterima sebagai kebenaran yang tidak dapat disingkirkan arti dan eksistensinya yang berupa ketidakpastian dan ketidakmampuan. Agama menunjukkan penyelesaiannya secara memuaskan kalau manusia mau menerima nilai-nilai terakhir dan tertinggi.

Dalam menghadapi 'kelangkaan' dalam arti kesejahteraan ekonomi, Weber melihat agama memberikan saham yang tidak kecil serta amat positif. Sebagai contohnya, bahwa Protestanisme memberikan pengaruh kausal yang kuat kepada lahir dan berkembangnya kapitalisme modern. Hal ini menunjukkan peran positif agama dalam kehidupan masyarakat. Munculnya etos kerja yang cukup tinggi bagi penganut Protestan karena adanya anggapan bahwa kekayaan merupakan satu-satunya yang mampu mendorong orang masuk surga.

Lain lagi dengan pandangan bahwa adanya agama yang memberikan larangan bagi agama tertentu untuk makan sejumlah jenis ciptaan seperti babi atau anjing untuk Islam sapi untuk Hindu, misalnya akan berbeda dengan penyembelihan puluhan ternak (kerbau dan babi di Sulawesi dan Batak tidak dapat menghilangkan kesan bahwa agama tidak memberikan keuntungan ekonomi tetapi sebaliknya bagi pemeluknya. Misalnya, penutupan peternakan babi atau sapi tidak berarti bahwa agama menghambat kesejahteraan manusia. Apa yang menurut ukuran materialis merupakan suatu kerugian bagi manusia religius bukan sebagai kerugian tetapi keuntungan. Dalam antropologis tidak memberikan sebuah pemikiran tentang moralitas tingkah laku pemeluk agama tetapi memberikan penilaian yang diberikan pemeluk yang bersangkutan dan motivasi yang melatarbelangkangi tindakan itu.

Para ahli kebudayaan yang telah mengadakan pengamatan mengenai aneka kebudayaan berbagai bangsa sampai pada kesimpulan bahwa agama merupakan unsur inti yang paling mendasar dari kebudayaan manusia baik ditinjau dari segi positif atau negatif. Masyarakat adalah suatu fenomena sosial yang terkena arus perubahan terus menerus yang dapat dibagi dua kategori kekuatan batin (rohani) and kekuatan lahir (jasmaniah). Contoh kekuatan lahir ialah perkembangan teknologi baru yang terlihat dalam revolusi industri di Eropa dan Amerika Serikat yang kemudian diekspor kepada bangsa-bangsa yang sedang berkembang mendatangkan kemajuan yang tidak kecil bagi kebudayaan materiil. Di lain pihak perubahan masarakat juga digerakkan oleh kekuatan batin seperti paham agama. Nilai-nilai keagamaan merupakan kekuatan pengubah yang terkuat dalam semua kebudayaan. Dalam hal ini agama menjadi inisiator dan promotor tetapi juga sebagai penentang gigih sesuai dengan letak kedudukan agama.

Agama merupakan unsur inti dari kebudayaan manusia maka dapat dibenarkan sampai tingkat tertentu pendapat umum yang menyatakan bahwa kebudaayan Asia adalah pengaruh dari agama Hindu dan Budha. Namun untuk kebudayaan Indonesia yang mengenal agama-agama besar yang berturut-turut masuk dari luar ke dalam Nusantara. Pertama agama Hindu/Budha, Agama Islam, lalu disusul agama Kristen. Berdasar pada
dalil bahwa agama merupakan unsur inti kebudayaan dapat disimpulan bahwa kebudayaan Indonesia dipengaruhi oleh ajaran-ajaran agama tersebut.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Golongan Karyawan

>
Yang dimaksud dengan karyawan adalah pengawai baik dari perusahaan swasta maupun kaum birokrat. Menurut hasil penelitian dari Weber, yang mengambil data-data di Cina khususnya agama Konfusianisme bahwa kecenderungan religius kaum birokrat bersifat mencari untung dan serba enak sendiri. Adanya ajaran hasil persetujuan yang mengandung kekosongan mutlak akan perasaan dan kebutuhan akan keselamatan (salvation) atau landasan transenden untuk kesusilaan (etik). Walaupun masih dijumpai upacara menghormati arwah nenek moyang dan banyak dilakukan oleh pejabat tinggi pemerintahan tetapi terasa adanya jarak tertentu dari roh-roh.

Penelitian Weber tersebut tidak berlaku di Indonesia dimana, golongan ini tidak bisa dikatakan berjiwa materialistis karena semangat keagamaan masih sangat tinggi. Hal itu terlihat dalam pertemuan-pertemuan nonreligius seperti rapat-rapat dan perayaan nasional dimana salam keagamaan (khususnya agama Islam) masih diucapkan bahkan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Esa masih terdengar.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Golongan Pedagang Besar

>
Pada umumnya golongan ini mempunyai jiwa yang jauh dari gagasan tentang imbalan moral. Sepanjang sejarah manusia kelas ini dikuasai oleh orientasi keduniawian yang menutup kecenderungannya kepada agama yang profetis dan etis. Semakin besar kemewahan mereka semakin kecil hasrat mereka terhadap agama yang mengarah kepada dunia lain. Namun sebagai gantinya mereka tidak keberatan memberikan bantuan uang atau barang untuk kemajuan agama yang mereka anut meskipun dalam jumlah kecil. Selanjutnya kegiatan yang diperlukan untuk pengembangan agama mereka serahkan kepada orang lain.

Hal ini dapat kalian liha pada perkembangan masyarakat modern munculnya lembaga-lembaga zakat atau yayasan-yayasan yang tujuannya untuk dialokasikan bagi kepentingan umum menjadi sarana menarik bagi golongan ini (pengusaha). Dana-dana ini kemudian digunakan untuk pembangunan sarana peribadatan, sekolah maupun rumah-rumah panti asuhan.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Golongan Pengrajin dan Pedagang Kecil

>
Golongan ini hidup dalam situasi dan kondisi yang berbeda dengan golongan petani. Golongan ini kurang berinteraksi dengan permainan hukum alam. Hidup mereka lebih didasarkan atas landasan ekonomi yang memerlukan perhitungan rasional. Tuntutan hidup yang mereka hadapi dalam situasi dan kondisi non agraris ditanggapi dengan cara dan gaya tersendiri bukan menyandarkan diri pada kedermawanan alam yang datang terlambat dan tidak menentu melainkan dengan perencanaan yang teliti dan pengarahan yang pasti. Menurut Weber yang mempelajari sejarah agama yang berlaku pada zamannya (agama Kristen, Yahudi, Islam, Hindu, Budha, Taoisme, dan lain-laian) golongan ini suka menerima pandangan hidup yang mencakup etika pembalasan. Mereka menaati kaidah moral dan sopan santun dan percaya bahwa pekerjaan yang baik dilakukan teliti dan tekun akan membawa balas jasa yang setimpal. Namun akhirnya agama yang mereka pilih adalah agama etis yang rasional unsur emosi tidak memainkan peranan penting.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Golongan Petani

>
Sikap mental golongan petani terbentuk oleh pengaruh situasi dan kondisi di mana mereka hidup, yaitu faktor klimatologis (iklim) dan hidrologis (musim panas - musim hujan) maka menurut Weber kaum petani lebih terlibat dalam proses organik dan peristiwa alam yang tak terhitung jumlahnya dari siklus yang satu ke siklus berikutnya dalam ritme yang tidak dipercepat dan tidak diperlambat. Hukum cocok tanam tidak dapat diperhitungkan secermat seperti pada ekonomi pasar maka kaum petani cenderung untuk mendayagunakan kekuatan magis guna mempengaruhi kekuatan kosmos yang irrasional. Itulah sebabnya kaum petani pada umumnya mempunyai kecenderungan religius lebih besar daripada kelompok manusia dari lapisan sosial lain.

Semangat religius ini dapat kalian lihat dalam pengadaan sejumlah upacara pesta pertanian dari mulai penanaman sampai masa panen merupakan peristiwa penting yang tidak boleh terlewatkan. Misalnya, kaum petani di Indonesia mengadakan selamatan pada waktu menanam benih dan pada waktu panen. Orang Jawa menyebut ini "wiwit" (mulai pemotongan padi) yang diadakan untuk menghormati Dewi Sri yang dipercayai sebagai pelindung kesuburan sawah dan ladang. Jalannya upacara dan jenis yang dikorbankan serta doa yang diucapkan bervariasi menurut tempatnya.

Pesta pertanian ini dapat juga ditemui pada bangsa Yahudi zaman bahari yang tercatat dalam Kitab Suci mereka (Perjanjian Lama). Mereka mengadakan pesta "massot" atau pesta Roti Tak Terbagi atai Pesta Paska. Pesta ini dirayakan selama 7 hari dan selama itu mereka makan roti tak berbagi yang dibuat dari bulir yang baru dipetik sebagai tanda permulaan baru. Dalam perkembangannya di Indonesia setelah masuknya agama wahyu, golongan petani ini banyak yang kemudian menjadi seorang kyai, mubaligh, atau pendeta.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Perilaku Keagamaan

>
Secara psikologis, ada empat faktor yang menghasilkan sikap keagamaan, yaitu pengaruh sosial, pengalaman, kebuntuan, dan proses pemikiran. Di antara empat faktor utama yang jelas menjadi sumber keyakinan agama adalah adanya aneka kebutuhan yang tidak terpenuhi secara sempurna. Kebutuhan itu meliputi kebutuhan akan keselamatan, cinta, memperoleh harga diri, dan kebutuhan yang timbul akibat adanya kematian.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Lingkungan Agama Kawasan Gelap

>
Adalah daerah usaha dimana manusia secara radikal dan total mengalami kegagalan yang disebabkan oleh ketidakmampuan manusia sendiri secara mutlak. Satu-satunya jalan keluar dari kesulitan ialah mengadakan komunikasi dengan kekuatan yang ada di luar yang mengatasi segala kekuatan alam. Kawasan ini disebut gelap karena rasio manusia tidak sanggup menangkap hakekat (substansi) kekuatan luar karena "Dia" itu di luar jangkauan pengalaman manusia. Hasil yang diperoleh dan dialami manusia dalam pertemuan dengan 'Dia" ialah rasa aman sentosa bahwa manusia dalam situasi yang tidak pasti dan penuh bahaya itu mendapat kepastian dan jaminan.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Lingkungan Agama Kawasan Hijau

>
Meliputi daerah dimana manusia merasa aman dalam artian akhlak (moral). Dalam kawasan ini tingkah laku manusia diatur oleh normanorma rasional yang mendapat legitimasi agama, sehingga manusia tidak lagi mengalami keraguan dan kebimbangan yang selalu membayanginya. Misalnya, yang berkaitan dengan hidup kekeluargaan, perkawinan, warisan, pertukaran barang-barang, diatur oleh peraturan-peraturan manusia yang dibenarkan oleh agama yang dipeluknya. Dengan adanya legitimasi dari agama itu lenyaplah rasa bimbang dan keraguan yang semula membayanginya.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Lingkungan Agama Kawasan Putih

>
Merupakan suatu kawasan dimana kebutuhan manusiawi yang hendak dicapai masih dapat diatasi dengan kekuatan manusia sendiri. Dalam arti bahwa manusia tidak perlu lari pada kekuatan supra empiris tetapi dengan menggunakan akal budi yang dibantu dengan teknologi yang semakin canggih dirasa dapat membantu mengatasinya. Bagi golongan yang masih primitif batas-batas kawasan putih ini ditarik lebih sempit akibat dari kompleks pengetahuan dan kemampuan mereka masih sempit. Mereka lebih cepat lari pada kekuatan gaib untuk meminta bantuan. Sedangkan bagi manusia yang sudah maju bantuan dari luar itu tidak diperlukan bagi usaha-usaha manusia yang rasional.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Lingkungan Agama

>
Untuk mempelajari tentang perilaku agama, maka terlebih dahulu harus dipahami yang dimaksud dengan iman karena merupakan konsep yang berbeda. Iman adalah kekuatan batin manusia untuk menanggapi sesuatu yang bermakna seperti kekuatan gaib, Roh Tertinggi (Tuhan). Kekuatan-kekuatan itu dianggap sebagai yang suci, angker, sakral memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dan memberi pengaruh baiknya kepada manusia. Langkah jauh yang dilakukan manusia adalah penyerahan diri secara menyeluruh kepada yang gaib. Iman yang demikian itu bersifat khas (personal) dan tidak dapat dicampuri oleh golongan atau kelompok manapun. Sedangkan pengertian agama lebih dipandang sebagai wadah lahiriah atau sebagai instansi yang mengatur pernyataan iman itu di forum terbuka (masyarakat) dan penerapanya dapat dilihat dalam bentuk kaidahkaidah, ritus dan kultus maupun doa-doa, dan lain-lain.
Baca Selengkapnya...

Senin, Juli 29, 2013

Wahana Antropologi - Sinkretisme

>
Sinkretisme diartikan sebagai sebuah peleburan atau pencampuran antara agama asli manusia dengan unsur-unsur kebudayaan setempat. Dalam hal ini biasanya unsur kebudayaan yang lebih kuat menyatu dengan unsur agama sebagai unsur baru yang masuk dalam suatu komunitas. Dalam agama Islam unsur-unsur pengaruh budaya Jawa sangat kental terasa karena kebudayaan tersebut melekat erat dalam benak masyarakat kita. Hadirnya agama-agama Islam Kejawen adalah contohnya. Orang yang memeluk agama Islam Kejawen mengakui adanya “Gusti Allah” namun mereka melakukan ritual dengan memberikan sesajen dan doa doa yang lain dengan hukum dan aturan yang ditetapkan dalam Islam. Selain itu acara-acara seperti pengajian dan yasinan ketika orang meninggal dan mengadakan makan-makan merupakan pencampuran kebudayaan Jawa dengan agama Islam pada konsep orang meninggal.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Monotheisme

>
Monotheisme adalah kepercayaan yang hanya menyembah atau percaya kepada satu dewa saja. Biasanya ini terkait dengan totemisme karena dewa yang disembah umumnya dipersonifikasi melalui berbagai bentuk totem baik itu binatang maupun tumbuhan. Saat ini masyarakat modern juga terkadang masih mengenal adanya dewa-dewa yang diyakini bertahta di kahyangan dan mengendalikan kehidupan di bumi. Dewi Quan-im adalah salah satu contoh personifikasi keyakinan agama Budha yang percaya bahwa dia mengatur kendali hidup manusia di dunia. Keyakinan akan monotheisme yang mengakui adanya satu dewa yang tunggal banyak ditemukan dalam mitologi Yunani.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Politheisme

>
Di dalam masyarakat primitif juga berkembang kepercayaan yang lain, salah satunya kepercayaan mengenai adanya kekuatan dewa-dewa yang merupakan kekuatan sakral yang cenderung dipersonifikasikan atas adanya daya alam yang bersifat magis. Hal ini mempunyai pengertian bahwa pada masyarakat primitif percaya bahwa keberadaan alam ini merupakan suatu proses kejadian dari adanya daya sakral yang menjadikan.

Berasal dari keberadaan alam ini masyarakat primitif beranggapan bahkan mempercayai bahwa alam ini ada dewa yang mengatur. Hal inilah yang dikenal dengan polytheisme. Dalam kepercayaan ini melaksanakan ritualnya dengan jalan melakukan sajen sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut, contoh pada masyarakat bertani diadakan upacara metik pari sebagai ucapan syukur masyarakat Jawa terhadap dewi sri (dewi kesuburan) yang dilakukan menjelang panen. Begitu juga pada waktu awal musim tanam melakukan upacara cocok tanam dengan membawa segala macam bentuk makanan yang dipersembahkan kepada dewa dengan tujuan agar tanamannya akan bertambah subur dan dapat di panen dengan selamat.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Totemisme

>
Pada aliran kepercayaan ini mempunyai sifat yang sama dengan animisme namun mempunyai perbedaan adanya kepercayaan terhadap roh halus yang terdapat pada binatang. Dalam hal ini binatang dielu-elukan sebagai wujud makhluk halus yang memiliki daya sakti seperti kerbau, sapi, kambing, ular, dan sebagainya. Keyakinan seperti ini mudah ditemukan, misalnya: seorang sopir takut menabrak kucing sebab akan membawa bahaya bagi pengendara dan penumpangnya.

Di kalangan masyarakat Bali mensucikan lembu/sapi seimbang dengan pemujaan terhadap dewa Brahma. Di masyarakat solo pada waktu kirab menyertakan lembu “bule” yang dianggap sakral bagi masyarakat solo, bahkan kotorannya pun sering diperebutkan untuk ditanam di wilayah pertanian agar subur. Penyembahan binatang bukan sekedar budaya tetapi sudah masuk ke dalam dunia teologi atau mitologi.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Dinamisme

>
Pengertian dinamisme dalam pemahaman yang telah dikembangkan dalam masyarakat mempunyai pengertian suatu paham atau aliran keagamaan yang mempercayai adanya daya-daya sakral yang ada pada suatu benda yang dapat membawa kebahagiaan manusia atau mendatangkan mara bahaya terhadap manusia dan lingkungannya, baik secara individu maupun masyarakat.

Hal ini mengakibatkan manusia merasa sebagai makhluk hidup kecil yang sangat bergantung kepada benda-benda tertentu yang dianggap bertuah. Dinamisme dalam praktik dapat ditemui melalui jampi-jampi jika dibutuhkan kekuatan gaib. Contoh: pada kalangan masyarakat Jawa terdapat kepercayaan terhadap benda-benda tertentu seperti keris atau pada masyarakat yang lain yang mempercayai senjata-senjata tajam yang kuno. Begitu pula pada masyarakat Sulawesi Selatan yang mempercayai cincin yang dapat membuat pemiliknya kebal. Di Kraton Yogyakarta benda benda tersebut dinamakan “kyai”, seperti keris, kereta, gong, dan alat alat kerawitan. Perlakuan terhadap benda-benda itu dilakukan waktuwaktu tertentu atau secara berkala dengan jalan dibersihkan dan dimandikan seperti keris-keris pusaka pada waktu jum’at kliwon. Pada hari itu senjata-senjata tersebut dimandikan/disucikan dengan air kembang dan jeruk.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Animisme

>
E.B. Tylor dalam bukunya “The Primitive Culture”, kata Animisme berasal dari kata anima yang artinya jiwa atau nyawa. Masyarakat penganut kepercayaan animisme percaya segala sesuatu memiliki jiwa atau “soul”, termasuk binatang, tumbuhan, karang, gunung, sungai, bintang dan lain sebagainya. Setiap segala sesuatu yang dianggap mempunyai jiwa ini dipercayai memiliki kekuatan, spiritual yang dapat melindungi atau bahkan mencelakakan mereka termasuk juga roh-roh nenek moyang.

Pada kepercayaan atau agama primitif ini cenderung memuja atau takut dan percaya kepada sesuatu yang menguasai wilayah yang ditempati. Pandangan suku-suku primitif tentang jiwa muncul dari anggapannya tentang mimpi. Di dalam mimpi orang-orang primitif melihat dirinya sendiri berjalan keluar dari dirinya. Seperti itulah orang mati, jiwanya pada hakekatnya tidak hancur bersama jasadnya namun berpindah atau menempati tempat tertentu yang dianggap angker atau mengerikan. Dapat juga berada pada seseorang (reinkarnasi), pohon besar, batu, dan gunung tergantung apa yang dimaui. Roh orang yang meninggal tidaklah begitu saja putus hubungannya dengan sanak keluarganya, melainkan secara terus-menerus menginginkan berdampingan dengan manusia. Bahkan manusia dihinggapi sehingga orang tersebut mengikuti kehendak roh tersebut, contoh: kesurupan (Ghazali,2000).

Di dalam melakukan hubungan spiritual masyarakat melakukan upacara sakral dalam bentuk selamatan dengan mengadakan sesaji yang semata-mata ditujukan kepada roh-roh halus yang mendiami tempat tertentu. Adanya sesaji berarti roh haluspun dipengaruhi oleh manusia yang pada akhirnya dapat berpihak kepada kepentingan manusia dalam bekerja; bertani, bercocok tanam, beternak, nelayan. Misalnya, di masyarakat pesisir pantai dilakukan upacara ngeruat yang tujuannya supaya tidak terjadi bahaya air laut naik sehingga menyebabkan banjir. Di pantai selatan atau gunung merapi diadakan upacara labuhan untuk keselamatan masyarakat dan terutama menjaga kemurkaan Nyi Roro Kidul dan penunggu gunung merapi.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Sihir

>
Kalau penyakit menimpa tanaman kacang, hal itu adalah sihir. Kalau orang sia-sia mencari binatang buruan di semak-semak, itu adalah sihir. Memang, kalau suatu kejadian malapetaka menimpa seseorang pada suatu waktu dan dalam hubungan dengan salah satu kegiatannya yang bermacam-macam dalam hidupnya, maka sebabnya mungkin karena sihir.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Agama Wahyu

>
Agama wahyu atau meminjam istilah Max Weber 'agama yang dirasionalisasikan' adalah yang disebut agama-agama besar dunia, seperti Yudaisme, Konfusianisme, Hinduisme, dan sebagainya. Bukannya memiliki banyak roh, agama-agama ini cenderung melihat Tuhan dalam bentuk satu atau sekedar prinsip spiritual yang besar. Agama-agama ini umumnya bersifat abstrak dan logis. Tidak seperti penganut agama alam, para pengikut agama wahyu sangat sadar dengan apa yang mereka lakukan dan mereka telah memilih suatu sistem kepercayaan yang sangat teratur. Menurut Weber, sebagian besar agama-agama dunia yang dirasionalisasikan muncul pada saat pergolakan sosial yang besar. Misalnya, Agama Kristen, muncul di tengah-tengah kekacauan sosial yang besar di alam Mediterania Kuno yang disebabkan oleh kemunculan dan menyebarnya peradaban Yunani Romawi.

Di Indonesia sendiri, agama wahyu adalah sebutan untuk agama yang ada setelah terbentuknya negara. Artinya agama tersebut diakui keberadaannya oleh negara, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Tetapi baru-baru ini telah diterimanya agama Kong Hu Cu sebagai salah satu agama yang diakui oleh negara. Konsep Tuhan tidaklah termanifestasi dalam benda-benda material atau kekuatan yang memiliki daya gaib dan supranatural seperti dalam agama bumi. Proses penciptaan bumi diyakini karena campur tangan kekuatan yang berada di luar akal manusia dan disanalah adanya keberadaan Tuhan. Munculnnya konsep manusia pertama (Adam dan Hawa) dalam berbagai versi agama menguatkan manusia untuk menyembah sesuatu yang menciptakannya. Konsep agama tidak lagi muncul karena kepercayaan terhadap benda namun lebih mengacu pada proses pewahyuan agama dari Tuhan kepada seseorang yang dianggap suci.

Manusia sudah mulai menyadari adanya proses pewahyuan dan keyakinan akan adanya Sang Pencipta yang tidak bisa dipersonifikasi dengan alam atau benda material. Hal ini membuat manusia yakin bahwa agama sesuatu hal gaib yang menguasai manusia. Pada saat itu manusia mulai mencari suatu pemikiran yang lebih rasional untuk mencari hakikat tentang Ketuhanan.
Baca Selengkapnya...

Wahana Antropologi - Agama Bumi / Alam

>
Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar agama bumi/alam? Tentu kalian telah mendengar istilah ini bukan? Agama bumi/alam (agama tradisional) menurut Weber lebih merupakan karakteristik orang-orang primitif yang kehidupannya berada dalam animisme atau politeisme. Mereka melihat ketuhanan dalam setiap pohon atau batu, dan mengadakan ritual baru pada hampir setiap perubahan kehidupan mereka. Hal ini tidak
terlepas dari pemikiran seorang ahli sejarah agama dari Jerman bernama N. Soderblom (1916) menyebutkan bahwa keyakinan paling awal yang menyebabkan terjadinya religi dalam masyarakat manusia adalah keyakinan akan adanya kekuatan sakti, hal-hal luar biasa dan gaib. Inilah yang mendorong perkembangan agama di masyarakat primitive tercipta seperti animisme, dinamisme, monoteisme, politeisme, dan sebagainya
(akan dijelaskan di bab berikutnya).

Pertama-tama, orang berpikir tentang roh-roh individu yang kecil dan khusus terkait dengan pohon, sungai, atau binatang yang mereka lihat. Kemudian kekuatan-kekuatan mereka mulai meluas. Secara perlahanlahan dalam pemikiran suku, roh suatu pohon tumbuh kuat sehingga menjadi roh dari hutan atau seluruh pohon. Misalnya, di antara dewa Yunani paling awal, Poseidon pertama kali disebut roh 'laut tuhan' selanjutnya ia mendapatkan tubuhnya memegang trisula dan berjenggot mampu meninggalkan laut dan berjalan cepat ke Gunung Olimpus saat Zeus mengumpulkan para dewa untuk bersi
Baca Selengkapnya...

Referensi :

Sebagian artikel yang tidak tertulis referensi nya adalah bersumber dari buku catatan sekolah.. Jika anda ingin memposting artikel bersumber dari blog ini, Mohon sertakan Referensinya agar anda tidak melanggar Aturan Penulisan, Terima Kasih :))